Selasa, 23 Januari 2018

Judul seminar: Kasihilah Sesamamu




KASIHILAH SESAMAMU MANUSIA

(Ams. 14:31 ; Luk. 16:25)


I.                   Pendahuluan
                  Kehidupan yang dialami setiap manusia tidaklah sama, ada yang kehidupannya yang berkecukupan dan ada yang kekurangan. Orang yang hidup berkekurangan inilah yang umumnya dikatakan miskin. Kemiskinan adalah istilah yang relative. Pengertian semula dari istilah ini menggambarkan syarat kehidupan manusia secara lahiriah, ekonomis dan sosial. Kenyataan hidup yang digambarkan di dalam pengertian ini tentunya sangat tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat umumnya dan tempat yang bersangkutan itu sendiri secara khusus.[1]
Dalam situasi bermasyarakat, orang-orang miskin dianggap hina, golongan terbawah dan sampah masyarakat. Memang tidak ada orang yang ingin hdupnya miskin. Lalu bagaimana sikap kita terhadap kemiskinan itu? Dalam Markus 14:7 dikatakan “karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bila kamu menghendakinya tetapi Aku tidak selalu bersama-sama kamu”. Apakah orang-orang miskin itu tidak memperoleh keselamatan? Untuk lebih membatasi cakupan sajian ini serta untuk lebih mengarahkan fokus pemikiran kita, maka penyaji membuat sistematika penulisan sebagai berikut:
I.                   Pendahuluan
II.                Pembimbing Teks
            Pemahaman Teks Lukas (16:25)
            Pemahaman Teks Amsal (14:31)
III.             Kasihilah Sesamamu Manusia
IV.             Kesimpulan
Daftar Pustaka

II.                Pembimbing Teks
                        Pemahaman Teks Lukas (16:25)
Menurut Kummel,[2] mengikuti Luk. 1:1-4 dan Kis 1:1 di mana disebutkan nama Teofilus, hal ini menunjukkan bahwa kedua buku ini ditulis oleh satu orang yaitu Lukas. Ini juga terlihat dalam gaya bahasa yang digunakan dan teologinya. Dalam tradisi selanjutnya disebutkan bahwa Lukas berasal dari Anthiokia dan ia seorang tabib (Kol. 4:14 band. Mark. 5:25-26; Luk. 8:43). Injil Lukas disusun dengan bahan-bahan yang kurang lebih sama dengan bahan-bahan yang dipakai oleh penulis Matius dan Markus, walaupun hasilnya tidak sama dengan Matius dan Markus. Salah satu sebabnya ialah  bahwa Injil Lukas bukanlah sebuah kitab yang selesai. Kitab Lukas adalah bagian jilid pertama dari dua jilid kitab hasil tulisan Lukas, yaitu injil Lukas dan Kisah Rasul. Menurut tradisi, Lukas adalah seorang teman seperjalanan Paulus. Barangkali Lukas termasuk orang-orang yang disebut dengan kami dalam Kisah Rasul (11:28 ; Fil. 1:23 ; II Tim. 4:9-12).[3]
Secara singkat dapat dikatakan bahwa Lukas adalah keturunan bangsa asing, berbahasa Yunani, yang telah mendapat pendidikan tinggi dan memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Mungkin ia adalah salah seorang dari orang percaya yang pertama dari misi yang pertama di Anthiokia. Tidak ada keterangan langsung mengenai kehidupannya sebelum ia bertemu dengan Paulus di Troas sekitar tahun 51. Lukas bukanlah seorang penonton biasa yang melihat kebenaran kekristenan dari luar kalangannya, tetapi dia sendiri adalah orang penkhotbah dan penginjil yang aktif. Ia juga seorang penulis sejarah gereja dan seorang sastrawan. Karena ia adalah teman sekerja Paulus dapat dimengerti bila karyanya mencerminkan pengetahuan kristiani yang biasa digunakan untuk mengajar umat yang bukan Yahudi.[4] Jadi Lukas adalah satu-satunya penulis dari kalangan orang bukan Yahudi.[5]
Pembagian Injil Lukas yaitu terdiri dari[6]:
·         Kata sambutan 1:1-4
·         Persiapan bagi Sang Juruselamat 1:5-2:52
·         Perkenalan Sang Juruselamat 3:1-4:15
·         Pelayanan Sang Juruselamat 4:16-9:50
·         Misi Sang Juruselamat 9:51-18:30
·         Kesengsaraan Sang Juruselamat 19:31-23:56
·         Kebangkitan Sang Juruselamat 24:1-53
Pada bagian kelima adalah khusus dari sumber Lukas, seperti perumpamaan orang Samaria yang baik hati (10:18-37), orang kaya yang bodoh (22:13-21), pohon ara yang tidak berbuah (13:6-9), dirham yang hilang, anak yang hilang dan lain-lain. Satu hal yang diistimewakan Lukas adalah perhatian terhadap orang yang menderita, miskin, hilang dan berdosa. Perhatian Lukas terhadap orang yang hina (Luk.2:8-20) saat gembala menjadi orang yang pertama datang menghormati Yesus yang lahir. Hanya Lukas yang membuka belas kasihan Yesus terhadap penjahat yang bertobat di kayu salib (Luk. 23:40-43)
Tuhan Yesus yang memilih satu bagian PB mengenai orang-orang yang menderita dan mereka inilah yang dipentingkan. Yesus ingin menjelaskan bahwa sesuai dengan rencana Allah keselamatan itu diberikan kepada orang yang bukan Yahudi. Kedatangan Yesus adalah untuk mengabarkan masa karunia Allah. Karena sudah tiba saatnya karena kebebalan Israel keselamatan itu ditujukan kepada orang yang bukan Yahudi. Jadi maksud Lukas adalah untuk memberi kesaksian yang berdasarkan kepercayaan tentang pekerjaan Yesus, bahwa di dalam Dia keselamatan diberikan sepenuhnya kepada orang yang bukan Yahudi, orang yang hina dan orang yang berdosa.[7]
Kapan tepatnya Injil Lukas ditulis tidak bisa dipastikan. Namun Lukas sendiri melihat kehancuran kota Yerusallem tahun 70 oleh kekaisaran Romawi. Dalam Lukas 13:34 Yesus menangisi kehancuran Yerusallem, sehingga dapat dikatakan bahwa Injil Lukas ditulis antara tahun 70-90. Tempat penulisannya ada yang menyebutkan di Kaisarea, Akhaya, Dekapolis, Asia kecil dan Roma. Namun yang jelas Injil Lukas ditulis diluar Palestina.[8]
Kalau kita perhatikan pasal 16:19-31 ini adalah merupakan bagian perumpamaan yang dapat diketahui dari kata permulaannya “ada seorang kaya,,,,” hampir tidak pernah dalam sebuah perumpamaan muncul lebih dari dua atau tiga orang yang memegang peranan penting di dalamnya.[9] Perilaku yang bertanggungjawab lebih penting dibandingkan kepada peraturan yang bukan tertulis. Bagi Yesus yang penting dalam etika adalah watak bukan hanya perbuatan, karena watak menentukan perbuatan. Jadi tidaklah mengherankan kalau Yesus menuntut agar hidup keberagamaan anggota-anggota kerajaanNya harus besar dari hidup keagamaan orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat. Yesus mengecam segala sikap dan perbuatan yang bertentangan dengan kebaikan. Perumpamaan tentang orang-orang kaya dan Lazarus yang miskin merupakan komentar mengenai hal ini karena kecaman yang ditujukan kepada orang kaya itu bukanlah karena dia kaya tetapi karena dia menyalahgunakan kekayaan itu. Harta telah membutakan matanya terhadap kebutuhan orang yang ada dipintu gerbangnya sehingga ia menghancurkan perhatian sosialnya[10]. Di dalam pasal tersebut digunakan istilah Ptochos yang mempunyai arti miskin, papa, melarat dan dapat juga disebut peminta-minta atau pengemis. Kaum Ptochos dianggap hina dalam masyarakat dan mereka tidak mempunyai jaminan hidup selain meminta-minta.
Untuk mengerti arti perumpamaan ini dapat dihubungkan dengan ayat 9 dan 15 pada ayat sebelumnya, di mana orang kaya itu adalah contoh dari seseorang yang tidak menggunakan kekayaannya dengan baik dan ternyata pikiran Allah kepadanya tidak sesuai dengan penghormatan yang diberikan orang itu kepadanya di dunia ini[11]. Perumpamaan ini terdiri dari dua bagian yaitu 16:19-26 tentang tema pembalikan nasib dan 16:27-31 tentang tema pertobatan. Orang kaya itu menyombongkan diri dengan kekayaannya di depan umum, terlihat dari pakaiannya yang serba mewah terbuat dari lenan halus setiap hari dia mengadakan perjamuan dengan banyak daging sedangkan rakyat hidup sederhana dan hanya dapat makan daging jika ada kesmpatan-kesempatan yang khusus. Secara jelas terlihat perbedaan sosial yang menyolok antara orang kaya dan Lazarus didunia ini. Ada dua tokoh yang diperkenalkan yaitu seorang pengemis yang dibaringkan di depan pintu utama tempat kediaman orang kaya itu. Namanya Lazarus yang artinya Allah adalah penolong. Dengan jelas digambarkan kesengsaraan Lazarus yang badannya penuh dengan borok bahkan tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menghalau anjing-anjing yang menjilatinya. Nama Lazarus yang berarti Allah adalah penolong disebutkan sedangkan orang kaya yang diharapkan akan memberi pertolongan tidak bertindak.[12]  
Perumpamaan ini berbicara tentang masalah kekayaan, kemiskinan dan keadilan. Jurang perbedaan anatara kaya dan miskin merupakan keadaan yang tidak adil yang harus ditata dan dibenahi. Allah sendiri akhirnya akan membereskan semuanya dengan keadilannya. Itulah hiburan bagi si miskin sekaligus peringatan bagi yang kaya. Tetapi sebelum terlambat, para pemerkosa keadilan mendengarkan warta kitab suci dan bertobat.
Perbedaan yang menyolok antara si Lazarus dan orang kaya tersebut pada satu sisi orang kaya dengan pakaian dan gaya hidup mewah yang mendengungkan suasana gemerlap kelas atas. Di sisi lain Lazarus ditampilkan serta tajam mendramatisasikan kemiskinan sosial rakyat jelata. Ia seorang pengemis yang ingin hidup dari sisa-sisa makanan pesta si kaya. Orang kaya di dalam saat perjamuannya sedangkan Lazarus berada di luar dekat pintu. Ke duanya terpaku pada posisi masing-masing tanpa ada pendekatan. Akan tetapi mereka semua sama sekali tidak mau mengetahui rahasia Kerajaan Allah itu. Sebab untuk menyakini apa yang dilihatnya dari dekat dan dekat dengan dirinya dia tidak mau, apalagi untuk melihat yang tidak nampak. Hal ini menjadi dasar orang kaya untuk bersukaria berpesta di atas penderitaan orang-orang miskin dan merupakan hal yang teramat penting yaitu keselamatan. Dalam perumpamaan ini terlihat pemahaman Lukas tentang eskhatologi bahwa Allah akan datang untuk memerintah. Terlihat dua gambaran antara orang kaya dan miskin yang bertolak belakang walaupun pada akhirnya mengalami kematian secara bersama-sama. Setelah kematian ini keberadaan mereka tidaklah sama, orang kaya dikiburkan dan Lazarus yang miskin menjadi tamu kehormatan. Orang kaya tersebut masuk neraka. Lukas 16:19-31 ditujukan Lukas pada orang-orang Farisi yang lebih mencintai kekayaan mereka dan mengolok-olok pengajaran Yesus (ay. 14-15). Dalam kenyataannya orang-orang Farisi dan orang kaya itu lebih mempercayai Hukum Musa, tetapi tidak melaksanakan apa yang dikehendaki dalam Hukum Musa tersebut (Im. 19:9-10). Mereka lebih mencintai kekayaan mereka dan tidak menolong orang miskin (Ul. 15:7-11 ; Yes. 58:6-7). Mereka mengatakan bahwa kekayaan itu adalah berkat Allah dan oleh karena itu mereka harus mematuhi perintah-perintah Allah namun dalam kenyataannya tidak[13].
Konteks teologi Lukas memperlihatkan kejadian-kejadian pada permulaan pelayanan Yesus yang berisikan pemberitahuan tentang kabar baik kepada orang-orang miskin (band. Yes. 61) sebagai tahun rahmad Allah.[14] Dalam cerita Lazarus, Lukas membuat ketidak seimbangan antara orang kaya dan miskin. Orang kaya tidak mendapat keselamatan. Setelah dia mati dia tidak mendapatkan duduk dalam pangkuan Abraham seperti yang dialami Lazarus. Orang kaya itu menerima upahnya. Lukas melihat ini sebagai norma. Peringatan bagi anggota keluarganya yang masih hidup tidak diperlukan lagi, mereka selama ini telah diingatkan melalui Musa dan para nabi. Kerajaan Allah lewat dari hidup orang kaya karena perbuatannya yang tidak baik.
Orang kaya dan Lazarus akhirnya meninggal, lazarus dibawa para malaikat-malaikat Allah ke pangkuan Abraham. Dia menikmati kebahagiaan persekutuannya dengan Abraham bapa leluhur itu (Kej. 15:15 ; Hak. 2:10). Hal ini memperlihatkan hubungan antara bapa dan anak (band. Yoh 1:18). Lazarus itu mendapatkan tempat yang terhormat dalam perjamuan bersama-sama dengan bapa Abraham. Orang kaya itu meninggal dan dikuburkan. Selanjutnya diterangkan bagaimana kehidupan ke duanya setelah kematian. Orang kaya masuk dalam dunia orang maut di mana api menyala-nyala jauh dari tempat kediaman bapa sekalian orang beriman (Rom. 4:11) bersama-sama dengan semua orang yang sungguh-sungguh menjadi anaknya. Dalam kesengsaraannya, orang kaya meminta pertolongan kepada Abraham, supaya dia menyuruh Lazarus untuk meringkankan bebannya, jadi walau berada dalam dunia maut orang kaya itu masih mengenal Lazarus. Ternyata sikap orang kaya tersebut belum berubah sekalipun dia telah berada dalam maut, sebenarnya dia belum mengenal sesal dan kepada Lazarus dia masih bersifat feodal dan ia meminta kepada Abraham supaya menyuruh Lazarus menjadi hambanya.[15]
Walau orang kaya itu meminta pertolongan kepada Lazarus untuk menyejukkan lidahnya saat ia berada dalam neraka dan Lazarus di sorga tapi pandangannya terhadap Lazarus tidak berubah. Ia masih melihat Lazarus sebagai orang yang lebih rendah dari dirinya. Digambarkan Lazarus dalam kebahagiaan dan orang kaya dalam siksaan seperti di sorga dan neraka. Dalam keYahudian ada kepercayaan mereka bahwa sorga itu mempunyai tingkatan (2 Kor. 12:2). Seperti juga dengan orang kaya yang tidak ikut masuk sorga, ia juga demikian. Mengapa ia tidak ikut diselamatkan? Perlu hati-hati dalam memahami maksud keselamatan itu. Injil dengan tegas menegaskan, bahwa keselamatan itu tidak hanya dengan perbuatan tetapi dengan iman dan kepercayaan (bnd. Efe. 2:8-9 ; Tit. 3:5).

                        Pemahaman Teks Amsal (14:31)
Perjanjian Lama Ibrani secara khusus terbagi atas tiga bagian yaitu: Hukum, Kitab Para Nabi dan tulisan-tulisan (bnd. Luk. 24:44). Termasuk dalam bagian ketiga ialah Kitab-kitab Syair dan Hikmat seperti Ayub, Mazmur, Amsal dan Pengkhotbah. Demikian pula, Israel kuno mempunyai tiga golongan hamba Tuhan: yaitu para Imam, para Nabi dan para Bijak (orang-orang yang berhikmat). Kelompok orang-orang bijak biasanya dikarunia hikmat dan nasehat illahi mengenai masalah-masalah kehidupan yang praktis dan filosofis. Amsal merupakan hikmat para Bijak yang terilhamkan.[16]
Istilah Ibrani yaitu Mashal yang diterjemahkan Amsal, bisa berarti ucapan orang bijak, perumpamaan, atau peribahasa berhikmat. Karena itu ada beberapa ajaran yang agak panjang dalam kitab ini, misalnya Amsal 1:20-33 ; Amsal 2:1-22 ; Amsal 5:1-14, dan juga aneka pernyataan ringkas yang menggugah berisi hikmat untuk hidup dengan bijaksana dan benar. Sedangkan Kitab Amsal menyajikan suatu bentuk pengajaran berupa Amsal yang umum dipakai di Timur, hikmatnya itu khusus karena disajikan dalam konteks Allah dan semuanya standard kebenarannya bagi umat perjanjian Allah. Alasan-alasan popularitas pengajaran berupa Amsal pada zaman dulu ialah kejelasannya dan sifat mudah dihafalkan dan disampaikan kepada angkatan berikutnya.[17] Tujuan kitab ini dinyatakan dengan jelas dalam Amsal 1:2-7 ; memberi hikmat dan pengertian mengenai perilaku yang bijak, kebenaran, keadilan, kejujuran sehingga[18] :
·         Orang yang tidak berpengalaman dapat menjadi orang bijak (Amsal 1:4)
·         Kaum muda dapat memperoleh pengetahuan dan kebijaksanaan (Ams. 1:4).
·         Orang bijak bisa menjadi lebih bijak lagi (Ams. 1:5-6).
Sekalipun Amsal pada hakekatnya adalah buku pedoman hikmat untuk hidup dengan benar dan bijaksana, landasan yang diperlukan oleh hikmat tersebut dinyatakan dengan jelas sebagai takut akan Tuhan (Ams.1:7). Tema yang mempersatukan kitab ini ialah Hikmat untuk Hidup dengan Benar, sebuah hikmat yang berawal dari rendah hati kepada Allah dan kemudian mengalir kepada sebuah bidang kehidupan. Hikmat dalam Amsal ini yaitu[19] :
·         Memberi nasehat mengenai keluarga, kaum muda, kemurnian seksual, ksesetiaan hubungan pernikahan, kejujuran, kerja keras, kemurahan, persahabatan, keadilan, kebenaran dan disiplin.
·         Memperingatkan mengenai bodohnya dosa, pertengkaran, bahaya lidah, kebebalan, minuman keras, kerakusan, nafsu, kebejatan, kebohongan, kemalasan, dan teman-teman yang tidak baik.
·         Membandingkam kebijaksanaan dengan kebodohan, orang benar dengan orang fasik, kesombongan dengan kerendahan hati, kemalasan dengan kerajinan, kemiskinan dengan kekayaan, kasih dan hawa nafsu, benar dan salah serta kematian dan kehidupan.
Dalam Amsal 14:31, kata miskin dikenal dengan istilah Ebyon, artinya kekurangan, tidak punya, yang dimaksud di sini ialah orang yang masih menginginkan sesuatu agar diberikan kepadanya karena masih kekurangan, miskin dan sengsara (Mzm. 35:10 ; 37:14 ; 40:7).[20] Mereka berkekurangan dalam arti kebutuhan sehari-sehari, sehingga mencari pertolongan dengan orang lain dan akhirnya tergantung kepada pemberian orang lain. Dengan demikian dapat dikatakan mereka hidup sebagai peminta-minta. Kata Ebyon juga digunakan kepada yang miskin karena perbuatan ketidakadilan, ditindas sehingga tidak mampu lagi mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Orang-orang kaya tidak hanya berlaku tidak adil, bahkan penindas orang miskin ini dimana ceritra Lazarus yang miskin yang tidak diperdulikan oleh orang kaya. Hal ini menyebabkan mereka menangis, berteriak minta tolong, dan hal ini terjadi berulang-ulang yang menandakan mereka mengalami penindasan yang berat. Teriakan minta tolong tangisan dan keluhan ini mereka sampaikan kepada Allah. Mengapa mereka minta tolong kepada Allah? Karena mereka tidak lagi memiliki hak sebagai manusia, tidak memiliki bantuan hukum, tidak memiliki tempat pengaduan dan bahkan hukum yang ada pun telah berpihak dan disalahgunakan oleh orang-orang kaya. Teriakan minta tolong itu telah sampai kepada telinga Allah. Tangisan para buruh atas kelaparan karena kekurangan uang untuk makanan digambarkan seperti tangisan balas dendam, tangisan untuk kebenaran dan tangisan orang miskin. Tangisan dan teriakan karena tertindas menjadi suatu permohonan yang mencapai dan menggerakan Allah dalam kesetiaanNya yang tidak luntur kepada manusia. Tuhan mendengarkan mereka dan memperhatika mereka yang tertekan. Allah memberikan kekuatan dan kemampuan kepada orang miskin dan mereka akan memiliki kerajaan sorga.[21]   
Pada dasarnya Tuhan memperlihatkan keadilan pada umatNya bukan hanya menghukum, melainkan dengan memberi ampunan. Tuhan itu setia bukan hanya pertama-tama kepada perjanjian melainkan kepada manusia yang dikasihiNya. Dengan kata lain, keadilan Allah yang setia terwujud dalam cinta dan belas kasihan, sehingga dalam umat yang setia kepada Allah, umat yang dipilih oleh Allah, keadilan tidak dapat dibatasi pada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Keadilan Tuhan juga tampak dalam hukum dan hukuman yang diberikan sebagai wujud dari keberpihakaNya, penyelamatanNya, bagi mereka kaum yang tertindas dan yang menjadi korban ketidakadilan. Dengan demikian ada suatu konsekuensi bahwa hukum Tuhan mendatangkan hasil yang baik bagi orang yang tertindas sekaligus sebagai dosa bagi mereka yang melakuka penindasan dan pelaku ketidakadilan.
Allah adalah sumber dari segala yang baik. Allah telah memenehi segala kebutuhan manusia. Allah juga memberikan mandat agar manusia saling mengasihi, saling memperhatikan, dan saling memelihara sesamanya tanpa melihat keberadaannya sama seperti Allah yang memelihara manusia dan cipataan lainnya. Bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah diberi tanggungjawab untuk memperhatikan, melindungi orang-orang miskin, memberikan hak-hak kepada buruh ataupun kepada pekerja harian. Para orang-orang kaya diperingatkan untuk menggunakan kekayaannya untuk menolong orang miskin, karena kekayaan diberikan untuk kebaikan manusia bukan menjadi sumber kejahatan.[22]

III.             Kasihilah Sesamamu Manusia
Pada Abad keempat sebelum masehi di Athena Yunani, gaya kehidupan manusia dan cara berpikirnya telah berkembang, dengan menciptakan apa yang disebut dengan kota. Kota menjadi pusat yang menampilkan gaya hidup tertentu. Orang-orang yang tinggal di kota adalah veteran-veteran Yunani, mereka menyelenggarakan kehidupan kota dengan mengawasi, mengumpulkan pajak dan bertindak sebagai wakil raja. Munculnya kota mempengaruhi pola kehidupan masyarakat. Petani-petani kecil harus bersaing dengan pemilik tanah dan harus membayar pajak. Sementara kota berkembang pesat, desa mengalami masa-masa krisis. Tanah-tanah penduduk desa direbut dan mereka menjadi penyewa. Petani-petani kecil ini masih dibebani pajak diancam akan dijadikan budak dan mereka juga harus memberi makan tentara-tentara. Akitab pajak yang begitu tinggi kemudian muncullah perampok-perampok. Keadaan ini berlanjut dan masih mewarnai kehidupan orang-orang kristen pada abad pertama.[23]
Kedaan dunia dahulu tidak jauh berbeda dengan keadaan dunia modern di abad ke 20 ini. Orang kaya dan miskin, baik dan jahat, majikan dan budak hidup berdampingan. Dalam banyak hal keadaan sosial dan ekonomi yang berlangsung pada masa itupun menyerupai kedaan sekarang dimana masih ada bentuk-bentuk penindasan, pebudakan, penganiayaan yang dibuat orang-orang kaya terhadap orang miskin. Sekarang ini kaum miskin kedudukannya sangat sulit, karena walaupun mereka hidup sebagai pemilik tanah kecil atau penyewa untuk para tuan tanah yang besar, mereka masih dibebani dengan berbagai macam pajak, persepuluhan dan uang sewa, sehingga mereka sering terperangkap dalam utang. Mereka inilah yang sering disebut dengan ptochos, kedudukan mereka paling rendah dan masuk dalam kelompok pengemis seperti orang sakit, orang buta, timpang, kusta, yang melarat yatim dan janda. Secara ekonomis mereka dipelihara dan diperhatikan secara khusus dan dibantu melalui sumbangan-sumbangan. Masih banyak dari tarif dan cukai yang dibebankan kepada masyarakat yang dikumpul oleh para pemungut cukai. Para pemungut cukai bekerja sebagai petani pajak yang telah membayar kepada penguasa tawaran yang tertinggi untuk peneriman pajak di daerah tertentu. Semua pajak-pajak tersebut tidak lagi digunakan untuk membangun infrakstruktur suatu daerah melainkan dipakai untuk kemewahan seseorang ataupun kelompok.
Yesus menentang tingkatan sosial ini pada zamannya. Para bangawan dan golongan saduki di Yerusalem mempunyai tanah yang luas di Galilea, dimana mereka menjerat para petani yang lemah. Akan tetapi Yesus datang menyampaikan kabar baik untuk orang miskin, pembebasan untuk orang tertindas dan penglihatan bagi yang buta, serta kemerdekaan bagi yang terbelenggu (Luk. 4:18-19). Pada masa Yesus, mayoritas masyarakat terdiri dari orang miskin. Di Palestina, orang miskin ini cukup diperhatikan walau mereka juga harus membayar pajak. Mereka dibantu dengan pemberian persepuluhan setiap tiga dan enam tahun. Merekapun diperbolehkan mengambil sisa-sisa dari ladang, kebun buah-buahan dan anggur serta tanaman apapun selama tahun sabat.[24] Menurut J. Jeremias, seperti yang dikutip Hortensius Mandaru berpendapat bahwa Yesus termasuk kelas bawah. Yesus dicap tidak terpelajar oleh orang-orang Farisi dan Ia dicela karena tidak mentaati hukum (Yoh. 7:15). Hal ini diperkuat oleh gaya hidup Yesus sendiri tanpa rumah dan keluarga serta amat tergantung pada dukungan para pengikutnya. Secara sosial dan ekonomis Yesus miskin. Yesus dan murid-muridNya mengandalkan dukungan dan kemurahan hati orang lain untuk mencukupi kebutuhan harian mereka (bnd. Mat. 10:10 ; Luk. 9:4 ; 10:7-8). Mereka juga mendapat dukungan material dari sekelompok wanita di Galilea (Luk. 8:1-3 ; 23:49-50 ; 24:1-2 ; 10:22). Yesus dikenal sebagai anak tukang kayu dari Nazareth (Mrk. 6:3). Murid-muridNya adalah penjala ikan dari Galilea (Mrk. 1:16 ff), seorang pemungut cukai (Mrk. 2:13 ff), dan orang Zelot (Mrk. 3:18).[25]
Keadilan, kepedulian, keberpihakan merupakan perbuatan-perbuatan nyata sebagai bukti dari adanya iman kepada Allah. Spiritualitas bertumbuh jika itu semua diwujudnyatakan kepada kegiatan-kegiatan yang berguna bagi orang lain. Oleh karena itu merupakan suatu pemahaman yang salah jika orang berpikir bahwa beribadat dengan mengabaikan praktek keadailan, kepedulian kepada orang lain akan mendatangkan keselamatan. Di sini gereja harus berdiri, membuka mata, memberikan perhatian terhadap mereka para buruh dan orang miskin. Gereja mengambil sikap berpihak kepada mereka yang lemah, yaitu hamba, pelayan, suruhan atau buruh, memberikan penghargaan terhadap hasil kerja mereka demi menciptakan keakraban antara gereja dan kaum pinggiran, menyuarakan penegakan keadilan ekonomi, sosial, hukum, pembelaan, kebenaran dan pembebasan bagi kaum yang lemah.   

IV.              Kesimpulan
Yesus datang untuk menghilangkan pandangan yang salah dari manusia tentang kemiskinan dan kekayaan. Kekayaan merupakan suatu bahaya sebab orang bisa berpendapat bahwa dengan kekayaan itu ia mempunyai suatu jaminan bagi kehidupannya. Sikap ini akan menutup hati manusia terhadap sesamanya yang membutuhkannya. Kemiskinan adalah lumrah dalam setiap roda kehidupan manusia, namun di dalam kemiskinan manusia dituntut oleh Allah agar untuk saling mengasihi antar setiap manusia termasuk antara yang kaya dengan si miskin karena manusia setara di mata Allah.
Melalui kedatangan Yesus, manusia dilepaskan dari semua kemelaratan, ketidakadilan, kesengsaraan, kesakitan dan kemiskinan “Ia meninggikan orang-orang yang rendah ; melimpahkan segala yang baik kepada orang lapar” (Luk. 1:52-53). Oleh karena itu melalui Yesus dialami kuasa dan kasih Allah bagi semua orang, dan dilaksanakan dengan pelayanan yang mendahulukan mereka yang miskin dan menderita, yang tidak berdaya dan memperhatikan orang miskin adalah sikap dan tindakan manusiawi terhadap sesama. Inilah hakekat pertobatan yang diserukan sebagai pertobatan religius dan moral. Persaudaraan dimulai dimana jurang antara orang kaya dan miskin harus dibuang atau dihilangkan.
Keadilan, kepedulian, keberpihakan merupakan perbuatan-perbuatan nyata sebagai bukti dari adanya iman kepada Allah. Spiritualitas bertumbuh jika itu semua diwujudnyatakan kepada kegiatan-kegiatan yang berguna bagi orang lain. Oleh karena itu merupakan suatu pemahaman yang salah jika orang berpikir bahwa beribadat dengan mengabaikan praktek keadilan, kepedulian kepada orang lain akan mendatangkan keselamatan. Artinya bahwa keselamatan yang telah kita peroleh sebagai anugerah dari Tuhan tidak hanya sebagai annugerah yang pasif tanpa bukti, tetapi keselamatan dan anugerah itu harus diperlihatkan atau dikonkritkan dalam kehidupan dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas tadi. Ada wujud nyata, ada hasil yang konkrit dari ibadah yang dilakukan, dengan kata lain bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, untuk itu kasihilah sesamamu manusia.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar